Suatu Inspirasi Ajakan Bagi Perempuan Untuk Bangkit
"Katakan padaku apa yang memberimu kuasa untuk menindas perbedaanku? Kekuatanmukah? Bakatmukah? Perhatikanlah Sang Pencipta dalam Kebijaksanaan - Nya. dan menyerahlah pada bukti ketika aku berikan kamu alat. Carilah, periksa dan bedakan jika kamu bisa, perbedaan jenis dari seluruh alam. Di manapun kamu akan merasa mereka tercampur. Di manapun mereka dapat bekerjasama dengan harmonis di dalam karya agung yang tidak abadi ini" Olympe de Gouges
Darmakritika - Pada zaman pra kemerdekaan bagaimana peran perempuan yang selalu merasa terbelakang oleh para kaum laki-laki dan di anggap lemah. Karna pada saat itu kaum hawa hanya dijadikan sebuah objek bagi para kaum laki-laki, dimana pada era pra kemerdekaan perempuan hanya dibelenggu.
Seperti yang di katakan oleh bung karno "Suatu blasteran antara seorang dewi dan seorang tolol". Mengapa demikian? Karena perempuan di emban - emban bagaikan bak seorang dewi yang di sayang, dicintai, diperhatikan. tapi di satu sisi lain ia tak tau kalau dirinya di belenggu dan tidak diperbolehkan bertemu dengan siapapun yang intinya menyiksa diri sendiri. Ia selalu di anggap tidak bisa apa-apa, Perempuan itu tugas nya hanyalah dirumah, kasur, sumur, dan dapur.
Bagaimana dalam buku SARINAH perjuangan kaum perempuan supaya kaum hawa itu bangkit dari budaya patriarki yang dapat diartikan sebagai otoritas laki-laki di atas perempuan. Disitu dapat kita lihat bahwa wanita hanya menjadi makhluk yang berada di taraf sosial paling bawah. Perempuan menjadi objek penindasan yang paling menyiksa dari lahir sampai batin dan budaya matriarki/Matriarchat. Bisa disebut sebagai dominasi kepemimpinan di tangan perempuan, yang otoritas menurun garis ibu.
Bisa kita telaah budaya Matriarki ini masih kental dalam adat Minangkabau, Padang. dimana seperti harta warisan itu diwariskan oleh anak perempuan, dan wanita yang membeli laki-laki. Berbeda dengan budaya Matriarki di Lampung, yang mana laki-laki yang membeli perempuan ketika sudah dibeli kaum laki - laki bebas untuk melakukan apapun dan bertindak apapun terhadap kaum perempuan.
Dilihat dari perjuangan R.A Kartini dimana beliau pergi ke belanda untuk melanjutkan sekolahnya dan mengajarkan kepada kaum bumi putera dan membuat sekolah secara diam - diam dalam sebuah gedung di Balai Desa walaupun ia mendirikan sekolah yang bertentangan dengan bangsa Kolonial, dan ayah nya yang tidak membolehkan Kartini mengajarkan pendidikan kepada kaum bumi putera, karena pada saat itu yang memperoleh pendidikan itu hanya kaum Belanda dan Bangsawan.
Tapi nahas, dilihat dari realitanya sekarang, perempuan di era millenial ini lah yang justru menjatuhkan harga diri nya sendiri karna hal-hal yang kecil. Kalau bukan karna Kartini dan pejuang - pejuang perempuan pada saat itu, kita masih di belanggu, dan tidak bisa seperti sekarang, duduk sejajar dengan laki - laki. Bisa menyamakan pendidikan nya dengan laki - laki. Maka dari itu jangan jadikan kita perempuan yang digerus oleh perkembangan jaman.
Hey para perempuan, ayo bangkit, kalian itu hebat, kalian itu bisa sama seperti laki - laki, kalian itu kuat, kalian itu bukan perempuan yang lemah, ayo keluarkan aspirasi - aspirasi kalian, ayo keluarkan pendapat - pendapat kalian, kalau kalian takut dan hanya bergantung pada laki-laki lalu untuk apa adanya kesetaraan gender? Buktikan kalau kalian itu seorang perempuan yang bisa menyamakan kedudukan dengan laki-laki.(Tasya)

Komentar
Posting Komentar